Laman

Minggu, 27 Mei 2012

PENGANTAR AUDIT INTERNAL

Perbedaan utama antara auditor internal dan eksternal disajikan  pada tabel berikut ini :
Audit internal

Merupakan karyawan perusahaan, atau bisa saja merupakan entitas independen.

Melayani kebutuhan organisasi, meskipun fungsinya harus dikelola oleh perusahaan.

Fokus pada kejadian-kejadian di masa depan dengan mengevaluasi kontrol yang dirancang untuk menyakinkan pencapaian tujuan perusahaan.


Langsung berkaitan dengan pencegahan kecurangan dalam segala bentuk arau perluasaan dalam setiap aktivitas yang ditelaah.

 
Independen terhadap aktivitas yang diaudit,  tetapi siap sedia untuk menanggapi kebutuhan dan keinginan dari semua tingkatan manajemen.

Menelaah aktivitas secara terus menerus.
Audit eksternal

Merupakan orang yang independen di luar perusahaan.

Melayani pihak ketiga yang memerlukan informasi keuangan yang dapat diandalkan.

Fokus pada ketepatan dan kemudahan pemahamana dan kejadian-kejadian masa lalu yang dinyatakan dalam laporan keuangan.

Sekali-sekali memerhatikan pencegahan dan pendeteksian kecurangan secara umum, namun akan memusatkan perhatian lebih bila kecurangan tersebut akan memengaruhi laporan keuangan secara material.

Independen terhadap manajemen dan dewan direksi baik dalam kenyataan maupun secara mental.

Menelaah catatan-catatan yang mendukung laporan keuangan secara periodik-biasanya sekali setahun.


Definisi audit internal
Audit internal adalah sebuah penilaian yang sistematis dan objektif yang dilakukan auditor internal terhadap operasional kontrol yang berbeda-beda dalam organisasi untuk mementukan apakah (1) informasi keuangan dan operasi telah akurat dan dapat diandalkan, (2) risiko yang dihadapi perusahan telah diidentifikasi dan diminimalisasi, (3) peraturan eksternal serta kebijakan dan prosedur internal yang bida diterima telah diikuti, (4) kriteria operasi yang memuaskan telah dipenuhi, (5) sumber daya telah digunakan secara efisien dan ekonomis, dan (6) tujuan organisasi telah dicapai secara efektif-semua dilakukan dengan tujuan untuk dikonsultasikan dengan manajemen dan membantu organisasi dalam menjalankan tanggung jawabnya secara efektif.

Dikutip dari buku Audit Internal Sawyer’s, Salemba Empat, 2005

SIFAT SIKLUS INVESTASI DAN PEMBIAYAAN

A.      PENELAHAAN ATAS SIKLUSI INVESTASI DAN PEMBIAYAAN
Secara teratur  mengambil keputusan tentang bagaimana cara menggunakan sumber daya untuk mencapai tujuannya. Sumber daya itu dapat digunakan pada operasi dan untuk proses-proses kunci. Selain itu sumber daya ini dapat juga digunakan pada pengeluaran modal yang diperlukan untuk mendukung kesinambungan dan pertumbuhan operasi. Auditor biasanya ingin memperoleh jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan  berikut ketika mengaudit siklus investasi dan pembiayaan
a.   Aktiva yang diperlukan untuk mendukung operasi entitas ,dan apakah rencana jangka panjang manajemen untuk menentukan dasar aktiva entitas ?
b.        Aktiva yang diakuisisi ,atau dilepaskan , selama peroide berjalan ?
c.   Bagaimana aktiva baru diakuisisi dibiayai dan apakah rencana jangka panjang manajemen untuk membiayai pertumbuhan entitas?
Pertanyaan-pertanyaan ini secara langsung tertuju pada aktivitas investasi dan pembiayaan.
Aktivitas investasi (investing activities) adalah pembelian dan penjualan tanah,bangunan, peralatan,serta aktiva lain yang umumnya tidak ditahan untuk di jual. Disamping itu aktivitas investasi juga mencakup pembelian dan penjualan instrument keuangan yang tidak dimaksudkan untuk tujuan perdangangan. Sedangkan Aktivitas pembiayaan (financing activities) mencakup transaksi dan peristiwa dimana kas diperoleh dari atau dibayarkan kembali kepada kreditor (pembiayaan dengan hutang) atau pemilik (pembiayaan dengan ekuitas). Aktivitas Pembiayaan dapat meliputi misalnya, mendapatkan pinjaman , lease modal, penerbitan obligasi,atau menerbitkan saham preferen atau saham biasa.
 
B. MENGGUNAKAN PEMAHAMAN TENTANG BISNIS DAN INDUSTRI UNTUK MENGEMBANGKAN STRATEGI AUDIT
Ketika seorang auditor mengembangkan strategi audit berdasarkan transaksi, dari bawah keatas untuk audit atas investasi dalam aktiva tetap, dan aktiva jangka panjang lain, proses ini biasanya merupakan produk sampingan dari siklus pengeluaran. Pengendalian internal atas taransaksi pengeluaran juuga mempengaruhi akuisisi,dan investasi dalam aktiva tetap. Apabila auditor mengembangkan pendekatan berdasarkan mengaudit investasi dalam aktiva tetap, bersama pembiayaan dari investasi ini,karena hal itu saling berkaitan sangat erat.

SIKLUS INVESTASI
1.        PERTIMBANGAN PERENCANAAN AUDIT
Materialitas
Pertimbangan utama dalam mengevaluasi alokasi materialitas ini penentuan besarnya  salah saji yang akan mempengaruhi keputusan seorang pemakai laporan keuangan yang layak. Pertimbangan kedua adalah hubungannya dengan biaya untuk mendeteksi kesalahan.
Risiko Inheren
Risiko Inheren (inherent risk) yang berkaitan dengan asersi eksistensi/keberadaan seringkali rendah karena aktiva tetap tidak mudah dicuri. Akan keberadaan, risiko inheren dapat meningkat sampai ketingkat sedang atau tinggi karena potensi bahwa aktiva yang yang dibersatukan atau tidak digunakan lagi , munkin tidak dihapuskan.
Risiko Prosedur Analitis
Risiko prosedur analitis unsur elemen dari risiko deteksi bahwa prosedur analitis akan gagal  mendeteksi  kesalahan  yang material. Prosedur analitis bersifat efektif dari segi  biaya
dan hal dapat membantu auditor dalam mengevaluasi kelayakan laporan keuangan.
Risiko Pengendalian
Aspek yang sama dari penendalian internal yang menetapkan kesadaran akan tingkat pengendalian yang tinggi seperti lingkungan pengendalian yang kuat,penilaian risiko yang efektif, akuntabilitas yang efektif atas penggunaan sumber daya dan pemantauan sumber pengendalian adalah penting dalam konteks  akuntansi untuk akitva tetap.
2.        PENGUJIAN SUBTANTIF ATAS SALDO AKTIVA TETAP
Menentukan Risiko Deteksi
Pengujian subtantif yang dilakukan auditor akan jauh lebih eksstensif dalam audit pertama atas seorang klien dibandingkan dengan penugasan yang berulang. Dalam audit pertama , harus diperoleh audit tentang ketepatan saldo awal akun dan kepemilikan aktiva bersangkutan.
Prosedur Awal
Suatu prosedur awal yang penting termasuk memperoleh pemahaman tentang bisnis dan industri bersangkutan. Prosedur ini memberikan sarana untuk mengevaluasi kelyakan bukti yang diperoleh pada tahap audit pada tahap berikutnya.
Prosedur Analitis
Suatu bagian yang penting dari siklus investasi adalah menentukan bahwa informasi keuangan yang akan di audit konsisten pada ekspektasi auditor. Ketika melaksanakan prosedur analitis, auditor harus mempertahankan sikap skeptisisme professional yang layak dan menyelidiki hasil-hasil yang tidak normal.
Pengujian Rincian Transaksi
Pengujian subtantif ini mencakup tiga jenis transaksi yang bekaitan dengan aktiva tetap :
      a.       Memvouching Penambahan Aktiva Tetap
      b.      Memvouching Pelepasan Aktiva Tetap
     c.       Mereview Ayat Jurnal Beban Reparasi Dan Pemeliharaan
                 Pengujian Rincian Saldo
           Tiga prosedur dalam kategori pengujian subtantif ini adalah :
a.         Menginspeksi aktiva tetap
b.         Memeriksa dokumen dan kontrak hak kepemilikan
      Pengujian Rincian Saldo : Estimasi Akuntansi
a.         Review penyisihan untuk penyusutan
b.         Penurunan nilai aktiva

SIKLUS PEMBIAYAAN
Seperti telah di jelaskan sebelumnya, transaksi investasi yang signifikan biasanya diserta disertai dengan transaksi keuangan yang signifikan. Siklus pembiayaan mencakup dua kelompok transaksi utama sebagai berikut yaitu transaksi hutang jangka panjang mencakup pinjaman dari oblogasi, hipotek, wesel, dan hutang, serta pembayaran pokok dan bunga yang berkaitan dan transaksi ekuitas pemegang saham mencakup penerbitan dan penarikan saham preferen dan saham biasa ,transaksi saham treasuriatau treasury stock dan pembayaran deviden.
1.         PERTIMBANGAN PERENCANAAN AUDIT
a.         Materialitas
b.         Risiko Inheren
c.         Risiko prosedur analitis
d.        Risiko pengendalian
Fungsi dan pengendalian yang berkaitan fungsi-fungsi poembiayaan berikut dan aktivitas pengendalian terkait dan bertalian dengan siklus pembiayaan:
a.         Mengotorisasi obligasi dan modal saham
b.        Menerbitkan obligasi dan modal saham
c.         Membayar bunga obligasi dan deviden tunai
d.        Penarikan dan reakuisisi obligasi serta modal saham
e.         Pencatatan obligasi pembiayaan

2.         PENGUJIAN SUBTANTIF ATAS SALDO HUTANG JANGKA PANJANG
a.    Menentukan risiko deteksi
b.    Merancang pengujian subtantif
c.    Prosedur awal
d.   Prosedur analitis
e.    Pengujian rincian transaksi
f.     Pengujian rincian saldo, meliputi :
1)        Mereview otoritas dan kontak
2)        Mengkonfirmasi hutang
3)        Menghitung kembali beban bunga
g.    Perbandingan penyajian laporan dengan GAAP 

AUDIT SIKLUS PENGELUARAN


1.        Sifat siklus pengeluaran
Siklus pengeluaran (expenditurecycle) terdiri aktivits-aktivitas yang berkaitan dengan akuisisi dan pembayaran barang  serta jasa, aktivitas utama utama dari siklus pengeluaran adalah (1) membeli barang  dan jasa-transaksi  pembelian dan (2) melakukan pembayaran-transaksi pengeluaran kas.
2.        Tujuan audit
Manajemen akan menetapkan asersi implisit dan eksplisit tentang transaksi dan saldo siklus pengeluaran dalam laporan keuangan perusahaan
3.        Materialitas
Siklus  pengeluaran merupakan proses inti bagi banyak industry dan mencerminkan jumlah serta volume transaksi dalam siklus ini di mana risiko terjadinya salah saji yang material adalah tinggi. 
4. Risiko inheren
Dalam menilai risiko inheren  untuk asersi-asersi siklus pengeluaran auditor harus mempertimbangkan faktor-faktor penting yang bisa mempengaruhi asersi-asersi diseluruh laporan keuangan serta faktor-faktor yang hanya berkaitan dengan asersi-asersi spesifik dalam siklus pengeluaran. Faktor-faktor penting yang dapat memotivasi manajemen untuk menyalah sajikan  asersi-asersi siklus pengeluaran meliputi :
a.      Tekanan untuk menetapkan terlalu rendah beban agar dapat membuat laporan yang memenuhi target profitabilitas atau norma industry yang telah ditetapkan. Yang dalam kenyataan tidak tercapai akibat faktor-faktor seperti kondisi ekonomi global, nasional, atau regional yang mempengaruhi  biaya  operasi, dampak perkembangan teknologi  terhadap produktivitas perusahaan, atau manajemen yang tidak baik.
b.      Tekanan untuk menetapkan terlalu rendah hutang agar bisa membuat laporan yang menunjukan tingkat modal kerja yang lebih tinggi pada saat perusahaan sedang menghadapi masalah likuiditas atau keraguan tentang kelangsungan usahanya
Siklus pengeluaran cendererung menanggung  resiko kecurangan yang dilakukan karyawan melalui pengeluaran kas yang tidak diotorisasi. Faktor-faktor lainnya yang dapat menimbulkan salah saji dalam asersi siklus pengeluaran mencakup :
a.      Volume transaksi dalam sikus ini biasanya tinggi
b.      Pembelian dan pengeluaran kas bisa dilakukan tanpa otorisasi
c.       Pembelian aktiva dapat diselewengkan
d.      Pembayaran atas faktur penjual mungkin dilakukan dua kali
e.      Masalah akuntansi yang tidak tepat mungkin terjadi berlaitan dengan hal-hal seperti apakah biaya harus dibebankan atau dikapitalisasi
5.        Risiko prosedur analitis
Pengujian analitis merupakan hal yang efektif dalam mengidentifikasikan akun-akun siklus pengeluaran yang mengandung salah saji. Risiko prosedur analitis merupakan unsur resiko deteksi bahwa prosedur analitis tersebut akan gagal mendeteksi kekeliruan yang material. Prosedur analitis yang hanya berfokus  pada pembelian dan hutang  usaha akan memberikan informasi yang akan sangat dapat diandalkan. Komponen pengendalian internal
a.      Lingkungan pengendalian
b.      Penilaian resiko manajemen
c.       Informasi dan komunikasi (system akuntansi)
d.     Pemantauan
e.      Penilaian awal atas resiko penendalian
6.        Aktivitas penendalian-transaksi pembelian
a.      Dokumen dan catatan yang umum
            Dokumen dan catatan yang sering ditemukan dalam system akuntansi :
1)        Permintaan pembelian
2)        Pesanan pembelian
3)        Laporan penerimaan
4)        Faktur penjua
5)        Voucher
6)        Laporan pengecualian
7)        Ikhtisar voucher
8)        register voucher
9)        file induk pemasok yang telah disetujui
10)    file pemesanan pembelian terbuka
11)    file penerimaan
12)    file transaksi pembelian
13)    file induk hutang usaha
14)    file suspense atau penolakan
b.      fungsi-fungsi
            pemrosesan transaksi pembelian mencakup fungsi-fungsi pembelian berikut :
1)        pengajuan pembelian. Permintaan yang diajukan oleh  perusahaan untuk melakukan transaksi dengan perusahaan lain, yang meliputi :
a)        pencantuman nama pemasok pada daftar pemasok yang telah disetujui
b)       pengajuan kembali permintaan barang dan jasa
c)        pembuatan pesanan pembelian
2)        penerimaan barang dan jasa, penerimaan atau pengiriman fisik barang  atau jasa, yang mencakup :
a)        penerimaan barang
b)       penyimpanan barang  yang diterima untuk persediaan
c)        pengembalian barang ke pemasok
3)        pencatatan kewajiban, pengakuan formal oleh perusahaan atas kewajiban hukum yang meliputi :
a)      pembuatan voucher  pembayaran dan pencatatan kewajiban
b)     pertanggungjawaban atas  transaksi yang telah dilakukan

7.        perolehan pemahaman dan penilaian resiko pengendalian
Auditor harus memperoleh pemahaman  tentang siklus pembelian yang mencukupi untuk merencanakan audit, yaitu auditor harus memiliki pemahaman yang cukupa agar mampu mengidentifikasikan jenis-jenis salah saji yang potensial, mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi risiko salah saji yang material, dan merancang pengujian subtantif jika auditor merencanakan untuk menilai risiko pengendalian pada tingkat yang rendah untuk suatu asersi.

Jika auditor merencanakan menilai resiko pengendalian pada tingkat yang sedang atau tinggi, maka ia dapat menggunakan pengetahuan  tentang keefektifan pengendalian yang diperolehnya ketika  memahami pengendalian internal

Jika  auditor merencanakan untuk menilai risiko pengendalian pada tingkat rendah, maka ia biasanya harus (1) menguji keefektifan pengendalian umum, (2) menggunakan teknik audit berbantuan komputer (3) menguji keefektifan prosedur untuk menindaklanjuti pengecualian yang diidentifikasi oleh pengendalian terprogram.
8.        Pengujian subtantif atas saldo hutang usaha
Hutang usaha biasanya merupakan kewajiban lancar terbesar dalam neraca  dan merupakan faktor yang signifikan  dalam mengevaluasi solvensi jangka pendek perusahaan.
9.      Penentuan resiko deteksi  untuk pengujian rincian
Hutang usaha dipegnaruhi baik oleh transaksi pembelian yang menambah saldo maupun oleh transaksi pengeluaran kas yang menurunkan saldo tersebut. Jadi, resiko pengujian rincian untuk asersi hutang usaha dipengaruhi oleh risiko inheren, risiko prosedur analitis, dan faktor-faktor risiko pengendalian yang berkaitan dengan kedua kelompok transaksi.

10.  Perancangan pengujian subtantif
Perancangan pengujian subtantif meliputi :
a.      prosedur awal
b.      prosedur analitis
c.       pengujian rincian transaksi
1)        menelusuri hutang yang dicatat ke dokumentasi pendukung
2)        melaksanakan pengujian pisah batas pembelian
3)        melaksanakan pengujian pisah batas pengeluaran kas
4)        melakukan pencarian hutang yang belum tercatat
a)        pembayaran kemudian
b)       prosedur lainnya
c)        pengujian rincian saldo
5)        konfirmasi hutang usaha
6)        merekonsiliasi hutang yang belum dikonfirmasi dengan laporan pemasok