Laman

Sabtu, 19 Mei 2012

AUDIT SIKLUS PENDAPATAN

1. Sifat siklus pendapatan

Siklus pendapatan (revenue cycle) perusahaan terdiri dari aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan pertukaran barang dan jasa dengan pelanggan   dan penagihan pendapatan daalm bentuk kas. Perusahaan yang berbeda juga memiliki sumber pendapatan yagn berbeda                    

2. Tujuan audit

Tujuan audit untuk siklus pendapatan berkaitan dengan perolehan bukti kompeten yang mencukupi  tentang setiap asersi laporan keuangan yang signifikan menyangkut saldo dan transaksi siklus pendapatan.
Untuk mencapai setiap tujuan audit spesifik ini, auditor dapat menggunakan berbagai bagian dari perencanaan audit dan metodologi pengujian audit

Penggunaan pemahaman tentang bisnis dan industri klien dan industry klien untuk mengembangkan strategi audit

3. Pemahaman bisnis dan industry  klien

Auditor mengembangkan strategi audit berdasarkan risiko salah saji yang material. Langkah pertama dalam menilai risiko itu adalah memperoleh pemahaman tentang bisnis dan industry klien karena hal  tersebut juga menbantu auditor dalam :

  • Mengembangkan ekspektasi tentang total pendapatan dengan memahami kapasitas klien, pasar, dan pelanggan klien
  • Mengembangkan ekspektasi tetnang marjin kotor dengan memahami pangsa pasar dan keunggulan kompetitif  klien di pasar
  • Mengembangkan ekspektasi tentang piutang bersih berdasarkan periode penagihan rata-rata untuk klien dan industry

4. Materialitas

Pendapatan merupakan ukuran volume aktifitas sebenarnya bagi setiap perusahaan. Pendapatan biasanya melibatkan volume transaksi yang tinggi, dan total  pendapatan merupakan hal yang sangat penting pada laporan keuangan yang seringkali digunakan sebagai ukuran materialitas

5. Risiko inheren

Dalam menilai risiko inheren pada asersi siklus pendapatan, auditor harus mempertimbangkan factor pervasive yang dapat mempengaruhi   asersi dalam beberapa siklus termasuk siklus pendapatan, serta factor-faktor yang hanya berkaitan dengan asersi tertentu dalam siklus pendapatan

6. Risiko prosedur analitis

Risiko prosedur analitis merupakan unsure resiko deteksi bahwa prosedur analitis akan gagal mendeteksi salah saji yang material. Prosedur analitis merupakan cara yang efektif dari segi biaya dan mengandalkan pada pengetahuan auditor tentang bisnis dan industry klien

7. Aktivitas pengendalian-transaksi penjualan kredit

Sejumlah dokumen dan catatan yang digunakan oleh perusahaan besar dalam pemrosesan transaksi penjualan kredit seringkali mencakup hal-hal berikut :
  • Pesanan pelanggan
  • Pesanan penjualan
  • Dokumen pengiriman
  • Faktur penjualan
  • Daftar harga yang diotorisi
  • File transaksi penjualan
  • Jurnal penjualan
  • File induk pelanggan
  • File induk piutang usaha
  • Laporan bulanan pelanggan

Fungsi-fungsi
Pemrosesan transksi pendapatan mencakup fungsi-fungsi pendapatan berikut :
  • Memprakarsai penjualan
  • Pengiriman barang dan jasa
  • Pencatatan penjualan

8. Aktivitas pengendalian-transaksi penerimaan kas

Penerimaan kas merupakan hasil dari beberapa aktivitas. Sebagai contoh kas diterima dasri transaksi pendapatan, pinjaman jangka pendek, dan jangka panjang, penerbitan modal saham, dan penjualan sekuritas , investasi jangka panjang serata aktiva lainnya.

Dokumen dan catatan umum

Dokumen dasn catatan umun yang digunakan dlaalm pemrosesan penerimaan kas  adalah sebagai berikut :
  • Bukti penerimaan uang
  • Pradaftar
  • Lembar penghitungan kas
  • Slip deposit yang disahkan
  • File transaksi penerimaan kas
  • Jurnal penerimaan kas

Fungsi-fungsi

Fungsi penerimaan kas, yang meliputi pemrosesan penerimaan dari penjualan tunai da nkredit termasuk subfungsi berikut :
  • Menerima penerimaan kas
  • Menyetorkan kas ke bank
  • Mencatat penerimaan kas

9. Aktivitas pengendalian-transaksi penyesuaian penjualan

Transaksi penyesuaian penjualan meliputi :
  • Pemberian potongan tunai
  • Pemberian retur penjualan dan pengurangan harga
  • Penentuan piutang  tak tertagih

Aktivintas pengendalian bermanfaat dalam mengurangi risiko penyelewengan  dan mencakup hal-hal berikut :

  • Otorisasi yang  tepat atas seluruh transaksi penyesuaian penjualan
  • Perhitungan  independen atas barang-barang yang diretur
  • Penggunaan dokumen dan catatan yang tepat, terutama penggunaan memo kredit yang telah disetujui atas pemberian kredit atas barang-barang  yang dikembaliakan atau rusak serta memo otorisasi  penghapusan
  • Pemisahan tugas untuk mengotorisasi transaksi penjualan dan penanganan serta pencatatan penerimaan kas  




10.  Perancangan pengujian subtantif

Pengujian subtantif  terdiri atas :
  • Prosedur awal
  • Prosedur analitis
  • Pengujian rincian transaksi
  • Pengujian rincian saldo

Pengujian rincian saldo

Dua bidang utama dari prosedur dalam kategori pengujian subtantif untuk piutang usaha ini yaitu :
1)     Konfirmasi piutang dan prosedur tindak lanjut yang berkaitan
2)     Prosedur untuk mengevaluasi kecukupan penyisihan piutang tak pertagih

11.  Prosedur audit yang berlaku umum

Konfirmasi piutang adalah prosedur audit yang berlaku umum. AU 330 proses konfirmasi (SAS 67), menyatakan, ada anggapan bahwa auditor akan meminta konfirmasi piutang selama melakukan audit, kecuali :
  • Piutang usaha bersifat tidak material terhadap laporan keuangan
  • Penggunaan konfirmasi akan menjadi tidak efektif sebagai suatu prosedur audit
  • Penilaian gabungan auditor atas risiko inheren  serta resiko pengendalian adalah rendah dan bahwa penilaian ini , bersama dengan bukit yang diharapkan disediakan oleh prosedur analitis atau pengujian subtantif rincian lainnya, sudah cukup untuk mengurangi risiko audit ke tingkat rendah yang dapat diterima untuk asersi laporan keuangan yang berlaku.

Formulir konfirmasi

Ada dua formulir konfirmasi :

1)  Konfirmasi positif, yang mengharuskan debitor untuk menjawab apakah saldo yang ditunjukan benar atau  tidak 
2)  Konfirmasi negatif, yang meninta debitor untuk menjawab hanya apabila jumlah yang ditunjukan tidak benar


Tidak ada komentar:

Posting Komentar